Jumat, 08 April 2011

Cara Menulis Memposting Matematika Pada Blogspot

Menulis matematika atau hal-hal yang berkaitan dengan penulisan rumus sangat sulit dilakukan bagi saya, terutama dalam memosting tu;isan di blog. Hal itu membuat saya harus bekerja keras Dari hal ini memacu saya untuk belajar dan mencari informasi yang lebih bagaimana cara mempostingnya. Untuk itu ada beberapa alternatif yang bisa saya share dengan teman2 yang mungkin membutuhkan. dan harapan saya ada masukkan dari temen2 sehingga ada perkembangan dari langkah2 yang saya lakukan. Yah minimal ada complain kalau tidak bisa dilakukan, atau ada informasi yang mungkin bisa dibagai, atau ada kata-kata semangat agar saya atau pembaca yang lain bisa lebih semangat dalam mencari pengetahuan atau informasi.
Ada beberapa cara memposting tulisan matematika pada blogspot.tetapi ada beberapa batasan:

1. Pengguna Harus bisa menulis dalam bentuk LATEX
2. Ada beberapa pengeditan yang dilakukan pada bagian HTML
3. Ketergantungan Blogspot terhadap editor codecogs (bisa dicari dlam google).

Adapun Langkah2 menuliskan Latex dlam blog sebagai berikut

1. Dengan memasukaan bahasa latex ke dalam http://www.codecogs.com/latex/eqneditor.php , nanti dari sana akan digenerate (dibangkitkan) kode dalam HTML yang kemudian bisa dicopy dan di paste pada HTML
2. Atau dengan menekan tombol menu saya yang nanti bisa dicopy kemudian dimasukkan ke HTML dari postingan kita.
3. Sering lah cek di pratinjau untuk melihat tampilan sesuai yang diinginkan.

Mungkin ini sementara yang bisa saya ungkap. Tidak ada yang susah kalau kita mau belajar, :-)

Mengenal Al-Khawarizmi (780-846 M) – Matematikawan Muslim

Tokoh yang bernama lengkap Abu Ja’far Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi (780-846 M) ini merupakan intelektual muslim yang banyak menyumbangkan karyanya di bidang matematika, geografi, musik, dan sejarah. Dari namanyalah istilah algoritma diambil.



  • Lahir di Khawarizmi, Uzbeikistan, pada tahun 194 H/780 M. Kepandaian dan kecerdasannya mengantarkannya masuk ke lingkungan Dar al-Hukama (Rumah Kebijaksanaan), sebuah lembaga penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan yang didirikan oleh Ma’mun Ar-Rasyid, seorang khalifah Abbasiyah yang terkenal.






  • Hisab al-Jabr wa al-Muqabla (Pengutuhan Kembali dan Pembandingan) dan Al-Jama’ wa at-Tafriq bi Hisab al-Hind (Menambah dan Mengurangi dalam Matematika Hindu) adalah dua di antara karya-karya Al-Khawarizmi dalam bidang matematika yang sangat penting. Kedua karya tersebut banyak menguraikan tentang persamaan linier dan kuadrat; penghitungan integrasi dan persamaan dengan 800 contoh yang berbeda; tanda-tanda negatif yang sebelumnya belum dikenal oleh bangsa Arab. Dalam Al-Jama’ wa at-Tafriq, Al-Khawarizmi menjelaskan tentang seluk-beluk kegunaan angka-angka, termasuk angka nol dalam kehidupan sehari-hari. Karya tersebut juga diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Al-Khawarizmi juga diyakini sebagai penemu angka nol.
    Sumbangan Al-Khawarizmi dalam ilmu ukur sudut juga luar biasa. Tabel ilmu ukur sudutnya yang berhubungan dengan fungsi sinus dan garis singgung tangen telah membantu para ahli Eropa memahami lebih jauh tentang ilmu ini.
    Selain matematika, Al-Khawarizmi juga dikenal sebagai astronom. Di bawah Khalifah Ma’mun, sebuah tim astronom yang dipimpinnya berhasil menentukan ukuran dan bentuk bundaran bumi. Penelitian ini dilakukan di Sanjar dan Palmyra. Hasilnya hanya selisih 2,877 kaki dari ukuran garis tengah bumi yang sebenarnya. Sebuah perhitungan luar biasa yang dapat dilakukan pada saat itu. Al-Khawarizmi juga menyusun buku tentang penghitungan waktu berdasarkan bayang-bayang matahari.
    Al-Khawarizmi juga seorang ahli geografi. Bukunya, Surat al-Ardl (Bentuk Rupa Bumi), menjadi dasar geografi Arab. Karya tersebut masih tersimpan di Strassberg, Jerman.
    Selain ahli di bidang matematika, astronomi, dan geografi, Al-Khawarizmi juga seorang ahli seni musik. Dalam salah satu buku matematikanya, Al-Khawarizmi menuliskan pula teori seni musik. Pengaruh buku ini sampai Eropa dan dianggap sebagai perkenalan musik Arab ke dunia Latin. Dengan meninggalkan karya-karya besarnya sebagai ilmuwan terkemuka dan terbesar pada zamannya, Al-Khawarizmi meninggal pada tahun 262 H/846 M di Bagdad.(dna)




  • sumber: http://hbis.wordpress.com/2008/05/15/mengenal-al-khawarizmi-780-846-m-matematikawan-muslim/


    Teorema Limit: Untuk Apa Mempelajari Matematika Abstrak?

    Matematika itu abstrak. Matematika itu tidak nyata. Matematika tidak dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Matematika itu khusus untuk orang pintar saja. Kesan seperti di atas sering saya jumpai ketika berinteraksi dengan siswa-siswa sekolah umum. Saya tidak menyalahkan mereka. Memang matematika saat ini berkesan seperti jauh terpisah dari kenyataan. Untuk apa belajar kalkulus? Untuk apa belajar limit? Untuk apa belajar integral? Saya mencoba mengenalkan teorema limit kepada anak-anak usia TK. Saya tidak punya target tertentu. Saya sekedar mencoba saja. Saya tidak akan rugi apa pun. Saya tidak perlu khawatir akan gagal. Itulah enaknya saya, berkesempatan melakukan aneka eksperimen matematika di APIQ. Saya mencoba mengenalkan konsep limit menuju ”tak terhingga”. ”Kalian tahu tidak? Ada berapa bulu pada badan seekor kucing?””Banyak!” jawab anak-anak.”Banyak itu berapa?””Banyak ya banyak!” kata anak-anak sambil ngotot.”Saya tahu banyaknya bulu pada seekor kucing,” saya bicara mantap.”Berapa ayo…?” anak-anak balik bertanya.”Mau tahu…?””Mau dong!””Banyaknya bulu pada seekor kucing adalah…TAK TERHINGGA!” Anak-anak diam sejenak. Saya perhatikan dari tatapan mata mereka, tampaknya mereka heran. Mungkin mereka juga ragu-ragu. ”Tak terhingga itu artinya adalah banyak sekali,” saya coba menjelaskan.”Kalian lihat, di tangan saya ada berapa butir pasir?” saya tanya mereka.”Ada dua butir.””Kalau ini, ada berapa butir?”“Lima butir.”“Kalau dalam sekarung pasir, ada berapa butir?”“Ada banyak.”“Banyak itu berapa?” saya tanya lagi.”Tak terhingga!” jawab mereka.”Betul!” seru saya. Mereka tertawa riang. Saya ikut tertawa bersama mereka. Saya tidak paham betul mengapa mereka tertawa. Bagi saya, tertawa itu mengasyikkan. Apalagi ketika sedang belajar limit dengan anak-anak kecil semacam ini.”Kalau dalam sekarung beras, ada berapa butir beras?””Tak terhingga!” jawab mereka mantap. ”Di dalam ruangan ini ada berapa orang?”Mereka menghitung-hitung.“Ada 7 orang.”“Kalau di seluruh Bandung, ada berapa orang?”“Banyak,” jawab anak-anak.“Banyak itu berapa?” saya tanya lagi.”Tak terhingga,” jawab mereka.”Betul!” sahut saya. Sampai di situ saya merasa kagum. Anak-anak kecil ternyata mampu juga menangkap konsep “tak terhingga”. Konsep “tak terhingga” biasanya dikenalkan kepada siswa kelas 2 SMA (kelas XI). Teorema limit juga sering muncul dalam UN (ujian nasional) dan SPMB (seleksi penerimaan mahasiswa baru). Di sebuah kelas siswa-siswa kelas 3 SMA saya bertanya, “Apa yang dimaksud tak terhingga?” ”Tak terhingga adalah besar sekali,” jawab para siswa.”Besar sekali itu berapa?””Besar sekali itu ya besar sekali.””Bagaimana caranya kita tahu bahwa sesuatu itu bernilai tak terhingga atau tidak?” Siswa kelas 3  SMA banyak yang tidak paham dengan konsep tak terhingga ini. Yang mereka tahu, tak terhingga adalah besar sekali. Hanya itu. Dengan pemahaman ini bagaimana mungkin seorang siswa mampu memecahkan soal limit. Bagaimana mungkin siswa tersebut dapat memanfaatkan teorema limit dalam kehidupan nyata. ”Secara matematis, tak terhingga adalah sebuah bilangan yang lebih besar dari sebuah bilangan besar tertentu,” saya mencoba untuk menjelaskan. Tampaknya, siswa-siswa itu belum begitu paham. Saya perlu memberikan ilustrasi contoh. “Misalnya, bilangan 1000 itu besar atau kecil?” Mereka tampak ragu-ragu. Ada yang mengatakan kecil ada juga yang mengatakan besar. ”Jika bilangan 1 milyar, besar atau kecil?””Besar!” jawab mereka sepakat.”Baik. Jika 1 milyar adalah besar, maka tak terhingga itu berarti lebih besar dari 1 milyar. Mungkin tak terhingga adalah 1 milyar + 1, atau 1 milyar + 2 atau lainnya.””Jadi, tak terhingga itu bisa macam-macam? Tidak hanya bernilai tunggal?””Tepat sekali!”Saya berpikir untuk mencari ilustrasi yang lebih nyata lagi. Di bagian bawah papan tulis saya lihat ada beberapa butiran kapur tulis – bekas penghapusan tulisan kapur dari papan tulis. Saya mengambil beberapa butiran kapur itu dengan ujung jari saya.  ”Ada berapa butiran kapur di ujung jari saya?” saya bertanya.”Sekitar 7 butir,” jawab seorang siswa yang duduk dekat saya.”Ya. Jika saya tambah sedikit lagi. Berapa butiran sekarang?””Kira-kira 20-an butirlah,” jawab mereka.”Jika saya ambil 1 batang kapur. Lalu saya hancurkan. Ada berapa butiran kapur yang kita peroleh?””Banyak sekali!””Tak terhingga!””Benar. Kita peroleh tak terhingga butiran kapur.” Saya lega berhasil menemukan ilustrasi nyata. Satu batang kapur setara dengan tak terhingga butiran kapur. Dari sini saya akan melangkah untuk menjelaskan teorema limit tak terhingga. Jika siswa berhasil memahami ini, mereka akan mampu memecahkan soal-soal limit UN (ujian nasional) atau pun SPMB (seleksi penerimaan mahasiswa baru). Teorema limit secara konsisten selalu diujikan dalam metematika UN mau pun SPMB. ”Jika satu batang kapur setara dengan tak terhingga butiran, berapa butiran yang kita miliki bila sebatang kapur saya tambah dengan satu butir kapur?””Tak terhingga tambah 1,” jawab anak-anak sambil tertawa.”Tetap tak terhingga,” jawab siswa yang lain.”Ya benar, tak terhingga,” sahut siswa yang lain lagi.”Baik,” saya lanjutkan, ”Jika dari satu batang kapur saya ambil satu butiran, berapa butiran yang tersisa dari batang kapur tersebut?””Tak terhingga kurang 1,” lagi-lagi jawab siswa dengan tertawa.”Tetap tak terhingga deh…” sahut siswa yang lain. Sampai di situ kami sudah sepakat. Tak terhingga + 1 tetap sama dengan tak terhingga. Tak terhingga kurang 1 juga tetap tak terhingga. Rumus ini berlaku untuk bilangan-bilangan lain juga. Tak terhingga + 7 tetap sama dengan tak hingga. Tak terhingga kurang 9 tetap sama dengan tak hingga. Tinggal satu langkah lagi, saya menjelaskan artimetika sederhana untuk menerapkan konsep ini dalam perhitungan. Siswa berhasil memahami dengan baik. Jika mereka menemukan soal limit, mereka mengatakan itu adalah soal bonus. Karena mereka yakin akan mampu menyelesaikan soal limit tersebut dengan lancar. Semoga sukses Nak! Dengan cara yang kreatif kita dapat memberikan ilustrasi matematika, yang tadinya seperti sangat abstrak menjadi sangat nyata dalam kehidupan. Saya menyusun tahap-tahap pembelajaran seperti ini menjadi lembar-lembar kerja standar APIQ. Dengan lembar standar ini saya berharap putra-putri kita akan mampu menguasai konsep matematika dengan pemahaman penuh. Salam hangat…  (agus Nggermanto; pendiri APIQ) APIQ: Inovasi Pembelajaran Matematika. APIQ membuka program kursus matematika kreatif yang mengembangkan kecerdasan anak dengan cara fun, gembira, dan mengasyikkan serta lebih cepat. APIQ menumbuhkan motivasi belajar anak dengan pendekatan Quantum Learning, Quantum Quotient, dan Experiential Learning. Berbeda dengan pendekatan metode pendidikan atau pembelajaran matematika yang pada umumnya menempatkan aljabar sebagai fundamental, APIQ justru menempatkan aritmetika sebagai fundamental utama matematika. Pendekatan aritmetika menjadikan matematika lebih konkret tidak abstrak seperti aljabar. APIQ mempelajari matematika secara utuh dari aritmetika, aljabar, geometri, statistik, kalkulus, dan lain-lain. APIQ menyiapkan program untuk anak usia 4 tahun (TK), SD, SMP, SMA, sampai lulus SMA (preuniversity). APIQ membuka peluang bagi Anda yang berminat membuka cabang franchise. APIQ berasal dari kata Aritmetika Plus Inteligensi Quantum.
    sumber : http://apiqquantum.wordpress.com

    RUMUS CEPAT PYTHAGORAS


    Judul Asli: “Segitiga Pythagoras Makin Menakjubkan: Genap”
    Beberapa hari lalu saya nonton tayangan “Flash of Genius”. Kisah nyata yang inspiratif.
    Seorang profesor menyatakan bahwa Dr Kearns tidak menemukan hal baru apa pun. Karena resistor telah lama ditemukan sebelum Kearns. Capacitor, transistor, dan komponen lainnya telah lama ditemukan sebelum masa Kearns. Yang dilakukan Kearns hanyalah merangkainya dengan pola yang baru. Itu saja.
    Perdebatan berlanjut… dan Kearns akhirnya menang. Penemuan terhebat, penemuan jenius dari Dr Kearns adalah penemuan pola baru dalam merangkai komponen yang ada tersebut.
    Kearns memenangkan 10 juta dolar dan bertambah lagi sampai hampir 30 juta dolar.
    Menemukan pola, mengenali pola, menciptakan pola adalah penemuan yang sangat penting.
    Paman APIQ berulang-ulang menekankan cara paling mudah menjadi kreatif adalah dengan mengenali pola.
    Beberapa waktu lalu, Paman APIQ telah berbagi pengenalan pola segitiga Pythagoras ganjil. Kali ini Paman APIQ mengajak kita berpetualang mengenali pola segitiga Pythagoras genap.
    Tentu kita masih ingat, dalam segitiga siku-siku berlaku teorema Pythagoras:
    a^2 + b^2 = c^2
    a = 4, b = 3, c = … = 5
    a = 6, b = 8, c = … = 10
    a = 8, b = 15, c =… = 17
    Dapatkan Anda menemukan polanya?
    Pola a mungkin tampak dengan jelas.
    Bagaimana menemukan pola hubungan b dan c?
    Mari kita coba lagi…
    a = 10, b = 24, c = …. = 26
    a = 12, b = 35, c = …. = 37
    a = 14, b = 48, c = ….
    a = 16, b = 63, c = ….
    Selamat berpetualang dengan pola-pola…
    Sumber : http://apiqquantum.wordpress.com/math/rumus-cepat-pythagoras/

    Kamis, 07 April 2011

    Islam Agama Kerja

    By MMOnline at 14 March, 2011, 5:13 pm
    “.. Dan bekerjalah, Wahai Keluarga Daud, sebagai (ungkapan) syukur (kepada Allah) (QS 34;14)
    Banyak orang memberikan gambaran orang Islam yang baik dan taat, adalah semata-mata dari berapa banyak dia melakukan shalat sunat, doa-doa, dzikir-dzikir, dan lain-lain. Sangat jarang orang mengaitkan ketaatan beragama misalnya dengan bagaimana dia giat bekerja, tegar berusaha, rajin di laboratorium atau berperilaku hemat. Bahkan kadang orang yang “terlalu” giat bekerja dicap sebagai orang yang jauh dari agama.
    Tentu benar, ketaatan beribadah (dalam arti ritual) menjadi syarat mutlak ketaatan seseorang, namun sesungguhnya kalau kita kaji lebih dalam Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi kerja, amal saleh (yang artinya perbuatan baik), atau action. Kerja adalah bagian penting dari ibadah. Islam adalah agama kerja.
    Berikut, akan disampaikan sepintas ilustrasi bagaimana Islam sesungguhnyam meninggikan nilai kerja, amal nyata, atau action yang berguna bagi lingkungan dan bagi sesama.
    Kerja adalah Pesan Moral dan Tindak Lanjut dari Ibadah Ritual Kalau kita perhatikan ibadah (ritual) dalam Islam memiliki bentuk yang sangat khas dibanding dengan agama lain. Apa itu? Jika ibadah dalam agama lain
    dilakukan dengan kondisi relatif diam, tenang, dan pasif, maka ibadah dalam Islam sangat dinamis, dan penuh dengan gerakan-gerakan. Contoh sangat nyata adalah shalat. Shalat adalah ibadah yang sangat sentral dan teragung dalam Islam, bahkan menjadi batas keimanan seseorang atau tidak. Kalau kita amati, shalat dari awal sampai dengan akhir, disertai dengan gerakan seluruh tubuh kita. Apalagi haji, sebagai ibadah paripurna seorang muslim. Haji adalan ibadah total action, sangat penuh dengan gerakan fisik. Kalau shalat meski penuh gerakan namun di tempat saja, maka haji gerakannya melintasi tempat yang jauh. Begitu juga puasa, zakat, semuanya action.
    Ibadah adalah penghambaan kepada Allah semata, namun semua ibadah kita harus memiliki implikasi kerja, implikasi sosial. Bahkan tata urutan ibadah selalu terkait dengan kerja. Shalat, misalnya, didasari dengan wudlu (penyucian diri), diawali dengan takbir (pengagungan kepada Allah), dan diakhiri dengan salam ke kanan dan kekiri. Salam adalah menyebarkan kedamaian, kesejahteraan dan keselamatan. Pesannya sangat jelas! Kegiatan ibadah shalat berupa ibadah penyucian diri, dan mengagungkan Allah, harus dibuktikan dengan menyebarkan kedamaian, kesejahteraan dan keselamatan kepada lingkungan. Dan itu –tidak bisa tidak- dilakukan dengan kerja, action.
    Secara jelas Al-Quran menyebut pesan moral atau tujuan dari shalat berkaitan dengan kerja. “…dan Dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar” (QS Al-Ankabut: 45)
    Begitu juga ibadah shaum (puasa) yang merupakan ibadah pengendalian nafsu dan penyucian diri, diakhiri dengan zakat fitrah, yaitu berbagi kepada sesama. Tidak berbeda dengan shalat, puasa juga harus mampu melahirkan semangat kerja. Haji diawali dengan wukuf (berdiam diri), dilanjutkan dengan tawaf, melempar jumrah, dan saĆ­. Semuanya action.
    Semua kegiatan ibadah memiliki benang merah yang sama. Kegiatan ibadah adalah merupakan penyucian jiwa, pengisian dengan sifat-sifat suci Allah, pengagungan dan berkomunikasi dengan Allah, yang harus diwujudkan dalam amal shaleh – kerja- kepada sesama.
    Dinamisnya ibadah dalam Islam juga terlihat pada arsitektur masjid. Berbeda engan tempat ibadah agama lain yang dirancang tertutup, sepi, kadang kalau perlu gelap, jauh dari keramaian. Masjid selalu bercirikan terang, terbuka, banyak jendela, dan berada di dalam pusat aktivitas manusia. Bahkan dalam sejarah Nabi, pengaturan umat selalu dilakukan di dalam masjid.
    Ketinggian Kerja dalam Al-Quran dan Sunah Nabi. Al-Quran dalam banyak sekali ayat, menyebutkan bahwa iman saja tidak cukup, tetapi harus disertai dengan amal shaleh, kerja, action. Tidak cukup iman saja tetapi harus dimanifestasikan dengan amal. Cukuplah, dinukilkan surat Al-Ashr untuk mewakili ayat-ayat tentang iman dan amal shaleh.
    “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”
    Dari ciri-ciri orang yang tidak rugi, selain keimanan semuanya berkaitan dengan kerja; amal shaleh, menasehati, menaati kebenaran, menetapi kesabaran.
    Al-Quran juga memerintahkan agar kita selalu mencari karunia Allah di bumi dengan bekerja sebagai ungkapan rasa syukur, bahkan setelah shalat pun kita dianjurkan untuk segera bertebaran di muka bumi untuk bekerja. Sebagaimana disebut dalam ayat-ayat berikut:
    “.. Dan bekerjalah, Wahai Keluarga Daud, sebagai (ungkapan) syukur (kepada Allah) (QS 34;14) “Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya.” (QS 67: 15) “Apabila Telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”( QS 62: 10)
    Dalam hadis juga banyak diungkapkan tentang orang-orang yang utama, kebanyakan berkaitan dengan kerja, tindakan, action. Berikut di antaranya hadis-hadis yang terkenal:
    “Sebaik-baik kamu adalah yang paling baik perangainya/ akhlaqnya”
    “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia”
    “Muslim yang terbaik adalah muslim yang muslim lainnya selamat/merasa aman dari gangguan lisan dan tangannya.”
    “Sebaik-baik kamu adalah yang belajar Al-Quran dan mengajarkannya”
    “Sebaik-baik kamu adalah yang terbaik (berperilaku) kepada keluarganya”
    “Tangan diatas lebih baik daripada tangan di bawah”
    “Sebaik-baik kamu ialah orang yang mempertahankan keluarganya selagi perbuatan itu tidak membawa kepada dosa”
    “Barangsiapa yang menjadi susah pada petang hari kerana kerjanya, maka
    terampunlah dosanya.” (Hadis riwayat Tabrani)
    Bekerja bukan hanya dianjurkan untuk memberi manfaat kepada manusia, tetapi juga sangat dipuji jika bermanfaat bagi makhluk yang lain.
    Rasulullah S.A.W. bersabda, “Seorang muslim yang menanam atau menabur benih, lalu ada sebahagian yang dimakan oleh burung atau manusia, atapun oleh binatang, nescaya semua itu akan menjadi sedekah baginya” (Riwayat Bukhari, Muslim dan Ahmad).
    Ketika menyebutkan ciri-ciri orang yang beriman, baik dalam Al-Quran selalu menyebut dengan amal, kerja, kegiatan, atau action. Misalnya ciri-ciri orang beriman dalam surat Al-Mukminun 1-11, yang menyebutkan ciri orang beriman sebagai orang yang khusyu shalat, berzakat, meninggalkan perbuatan yang sia-sia, menjaga kehormatan (kemaluan), dan menjaga amanat. Dalam Hadis terkenal misalnya ciri orang beriman adalah berkata baik atau diam, menghormati tetangga. Kebanyakan ciri-ciri orang beriman berkaitan dengan amal nyata atau kerja.
    Suatu ketika, Rasulullah mencium tangan kasar seseorang karena bekerja keras sebagai pemecah batu dan beliau memujinya bahwa tangan itu dicintai Allah. Subhanallah! …..
    Kerja Keras Para Nabi dan Orang-orang Shalih Kemudian kalau kita pelajari sejarah para Nabi AS, apalagi sejarah Nabi Muhammad SAW, para sahabat Nabi, hingga zaman keemasan Islam semua memiliki teladan yang sama, yaitu kerja keras membangun diri dan masyarakat. Tidak ada satu pun contoh-contoh dari mereka yang hanya mementingkan ibadah ritual semata.
    Sebagai contoh akan diulas singkat teladan Nabi Musa AS dan Nabi Muhammad SAW. Di antara para rasul yang paling banyak dikisahkan dalam Al Quran adalah Nabi Musa AS. Kalau dilihat kisahnya, berisi perjuangan luar biasa membina masyarakat Bani Israil. Mulai dari hijrah bertemu Nabi Syuaib AS, menghadapi Firaun, memimpin exodus besar-besaran Bani Israil dari Mesir ke Palestina yang memakan waktu puluhan tahun, hingga yang sangat menyita waktu adalah memberi dakwah kepada Bani Israil yang sangat “ngeyel”.
    Begitu juga Nabi Muhammad SAW, beliau tidak hanya menghabiskan waktu untuk berzikir saja. Baik pada periode Makkah maupun Madinah, beliau bekerja keras mendakwahkan Islam person to person, membina mental sahabat, membentuk kader, membangun masyarakat, memimpin perang, mengatur strategi, membuat perundingan, dan lain-lain. Kalau kita pelajari detil sejarah Nabi Muhammad SAW, kita dapati hari demi hari, tahun demi tahun yang penuh perjuangan dan kerja keras bersama para sahabat. Pada saat Rasulullah SAW wafat umat Islam menguasai hampir seluruh jazirah Arab.
    Hal ini dilanjutkan oleh para Khalifah Rasyidah, hingga dalam waktu singkat (terutama masa Umar Al-Faruq) Islam menyebar dengan penaklukan Persia (superpower masa itu) ke barat hingga ke Afrika berhadapan dengan Bizantium (superpower yang lain). Kemudian sejarah berlanjut hingga penaklukan Eropa, India, sehingga umat Islam menjadi pusat peradaban dan ilmu pengetahuan pada saat itu. Sejarah yang luar biasa! Dan itu dicapai dengan kerja keras, bukan hanya ibadah ritual semata.
    Secara pribadi, kita juga mendapati Rasulullah SAW dan para sahabat adalah orang-orang yang menyukai kerja. Rasulullad SAW selain bekerja untuk umatnya, beliau melubangi sendiri sandalnya, menambal sendiri bajunya, memeras sendiri susu kambingnya dan melayani keluarga. Subhanallah, Rasulullah adalah pemimpin sejati!
    Kerja: Gerak Universal alam semesta. Al-Quran memuat sangat banyak kejadian-kejadian alam semesta, bahkan menurut Dr Mahdi Ghulsyani (cendekiawan muslim Iran) hingga 10% dari ayat-ayat Al-Quran. Semua berpusat pada ketundukan, tasbih dan sujud jagad raya pada Tuhannya. Salah satu di antaranya, “Bertasbihlah kepada Allah semua yang ada di langit dan di bumi, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS 61:1)
    Kita tidak tahu bagaimana tasbih alam semesta, namun manifestasinya sangat jelas. Manifestasi dari tasbih dan sujud alam semesta adalah aneka kerja yang kontinu dan teratur dari alam semesta. Gerakan aneka benda langit pada orbitnya, reaksi fusi bintang-bintang yang menyebarkan energi kepada lingkungan, pengembangan alam semesta, sebagai contoh di antaranya. Semua bergerak, bekerja, dan berproses, itulah bentuk ibadah mereka yang bisa kita lihat. Di antara bentuk ibadah batu misalnya adalah dengan meluncur jatuh, sebagaimana ayat, “.. dan di antaranya (batu) ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah” (QS 2:74)
    Banyak sekali ayat-ayat tentang alam semesta, dari yang besar mengenai galaksi hingga hewan-hewan kecil seperti semut, semua mengikuti perintah Allah dengan bekerja secara terus menerus. Sehingga kita bekerja pada dasarnya adalah seirama dengan gerak universal alam semesta, seirama dengan sujud alam semesta. Kahlil Gibran dalam Sang Nabi membuat puisi yang sangat indah:
    Kau bekerja, supaya langkahmu seiring irama bumi
    Serta perjalanan roh jagad ini
    Berpangku tangan menjadikanmu orang asing bagi musim,
    Serta keluar dari kehidupan itu sendiri
    Yang menderap perkasa, megah dalam ketaatannya
    Menuju keabadian masa
    Bekerja sebagai Pengabdian kepada Allah SWT. Kalau sekedar bekerja, bukankah semua orang melakukan, umat lain melakukannya? Bahkan kaum ateis pun bekerja. Lalu apa bedanya?
    Tentu ajaran bekerja para Nabi sangat berbeda. Bekerja dalam ajaran Islam adalah manifestasi dari iman. Bekerja adalah sebagai bagian dari ibadah. Sedang bagi umat yang lain, mungkin hanya sekedar mengisi waktu, mengejar harta, dll.
    Berikut secara ringkas ciri bekerja sebagai pengabdian kepada Allah SWT:
    1. Motivasi kerja : pengabdian kepada atau mencari ridha Allah SWT
    2. Cara kerja : sesuai/tidak bertentangan dengan syariat Islam
    3. Bidang kerja : yang halal, baik/ma’ruf
    4. Manfaat kerja : kebaikan, kesejahteraan, keselamatan bagi semua (rahmatan lil alamin)
    Dengan bekerja sebagai motivasi ibadah, semestinya selalu memberikan yang terbaik. Selalu bekerja semaksimal mungkin, bukan seadanya. Itulah yang disebut sebagai “ihsan” (berbuat baik) atau “itqan”(hasil terbaik). Allah bahkan memerintahkan kita meniru karya Allah dalam bekerja, “… maka berbuat baiklah (fa ahsin) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu” (QS 28:77)
    Bekerja dengan motivasi di atas semestinya juga akan melahirkan kerja keras, tegar, jujur, dan profesional dalam kondisi apa pun. Berbeda dengan motivasi jabatan misalnya, hanya bekerja ketika ada iming-iming atau konsekuensi jabatan, jika tidak dia akan enggan. Sedang bekerja dengan motivasi ibadah semesteinya akan bekerja dengan semangat meski imbalan langsung tidak nampak, meskipun uang sedikit, meski tidak ada yang melihat, meski tidak dipuji atasan. Karena memang motivasinya adalah pengabdian kepada Allah SWT. Sedang Dia selalu ada, selalu mengawasi, selalu mengetahui apa yang kita lakukan.
    Kalau demikian, mengapa bangsa muslim kini justru identik dengan bangsa yang malas, tidak dapat dipercaya, tidak disiplin, kurang etos kerja, bahkan : korup!? Ini kenyataan yang harus kita akui bersama, dan menjadi tugas kita bersama untuk memperbaiki. Mulai dari diri sendiri, di sini dan sekarang!
    Ternyata kini kita bekerja jauh dari semangat dan nilai-nilai Islam dan teladan para pendahulu kita. Kita juga memandang agama dengan cara yang salah. Kita menganggap kerja dan ibadah adalah dua hal yang berbeda dan terpisah. Akibatnya adalah sikap mendua (split personality) dalam bekerja. Maka kini kita dapati kenyataan aneh seperti orang yang rajin beribadah (ritual) namun rajin juga menilap aset kantor, bahkan milik masyarakat, tidak jujur, atau suka main terabas.
    Kita sudah shalat, namun shalat kita belum mampu membangun karakter sehingga mampu mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Kita belum bisa menjadikan puasa sebagai perisai kita melawan tarikan nafsu-nafsu yang rendah. Kita belum mampu menjadikan haji sebagai total pengabdian kepada Allah SWT.
    Masya Allah, kita beragama namun menjauh dari nilai-nilai agama. Kita beribadah ritual namun kita semakin menjauh dari petunjuk Allah. Kita lebih memilih topeng dalam beragama. Kita memilih kulitnya, lalu membuang isinya.
    Akhirnya, marilah kita jadikan setiap ayunan langkah kita dalam bekerja sebagai zikir kita kepada Allah SWT. Kita jadikan setiap gerakan tangan kita dalam bekerja sebagai tasbih kita kepadaNya. Kita jadikan setiap ucapan dan pikiran dalam bekerja sebagai sujud dan syukur kita kepada Rabbul Izzati. Amien!
    Ditulis oleh: Warsono

    SEPERTI APAKAH AKU


    HERY WAHYUNI,S.Pd